Berita sedih datang dari keluarga Ki Gendeng Pamungkas. Pria yang dikenal sebagai peramal itu meninggal pada Sabtu (06 Juni 2020) sekitar pukul 15:15 WIB di rumah sakit Mulia di Jalan Pajajaran, Kota Bogor.

“Saya diberitahu bahwa dia meninggal oleh putranya sekitar jam 3:00 sore,” kata Adang Yani, keluarga dan ibu mertua Ki Gendeng Pamungkas.

“Sejauh yang saya tahu, saya sudah lama sakit. Tapi saya dibawa ke unit perawatan intensif ini dan dirawat tiga hari yang lalu,” kata Adang.

Jenazah Ki Gendeng Pamungkas langsung dibawa ke rumahnya di Sawangan, Kota Depok, Jawa Barat, sekitar pukul 16.30 WIB. Almarhum akan dimakamkan pada Minggu pagi (07 Juni 2020).

Nama Ki Gendeng Pamungkas sangat akrab bagi masyarakat Indonesia, terutama mereka yang mencintai dunia supranatural. Pria yang sering mengenakan pakaian hitam ini dikenal sebagai peramal yang kontroversial karena ia sering membuat pernyataan yang mengundang kontroversi.

Sebagai contoh, pada tahun 2006 ia membuat pernyataan irasional untuk beberapa orang, terutama terutama niatnya ingin menyantet Presiden Amerika Serikat saat itu, George W. Bush, yang sedang mengunjungi Indonesia. Pada saat itu, kunjungan Bush ditolak oleh sejumlah kelompok, termasuk Ki Gendeng.

Sebelum kedatangan Görge W. Bush di Indonesia, peramal Ki Gendeng Pamungkas mengancam untuk menyantet Bush bersamanya.

Pada saat itu, Ki Gendeng mengadakan ritual voodoo untuk menyantet George Bush menggunakan darah ular hitam, gagak dan campuran darah Ki Gendeng Pamungkas sendiri.

Selain itu, Ki Gendeng mengatakan dia melakukan beberapa serangan yang menyerukan petir dan hujan, dan karena itu tidak membiarkan Bush mendarat di kebun raya Bogor. Karena sihir yang akan datang, George Bush meminta Ki Gendeng Pamungkas untuk menghentikan pukulan.

Ki Gendeng tidak hanya dikenal sebagai peramal yang kontroversial, tetapi juga karena pekerjaan politiknya. Pada 2008 dia muncul bekerja sama dengan Ahmad Chusairi sebagai kandidat walikota Bogor dari 2008-2013.

Pada saat itu, Ki Gendeng Pamungkas mempromosikan pemilihan di kota Bogor melalui saluran tunggal atau independen. Namun, ia tidak dapat menjadi walikota karena ia hanya menerima sekitar 6,73 persen suara.

Ki Gendeng Pamungkas mpat menjadi tahanan polisi setelah ditangkap pada Selasa malam (9 Mei 2017) karena diskriminasi ras, etnis atau rasis.

Leave a Reply